Lima Dua dot Com - Creative Partnership

Religi

Hikmah Idul Adha. Sebuah renungan tentang Keimanan, Kesabaran, Keikhlasan dan Solidaritas Sosial

VN:F [1.9.14_1148]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)

Bulan ini kita memasuki salah satu bulan agung dalam Islam yaitu bulan Dzulhijjah dimana pada bulan ini umat Islam diseluruh dunia berkesempatan untuk menunaikan rukun Islam yang terakhir yakni Ibadah Haji yang dipandang sebagai rukun pamungkas, penyempurna rukun Islam. Dalam ibadah ini umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di kota Makkah untuk melaksanakan proses-proses ritual ibadah haji yang diawali dengan wukuf di Arafah hingga Thawaf Wada’ atau Thawaf perpisahan yang dilaksanakan pada saat meninggalkan kota Makkah. Ritual Ibadah Haji ini semakin menegaskan citra agama Islam sebagai agama yang egaliter, agama yang menempatkan prinsip persamaan sebagai sesuatu yang harus dijunjung tinggi. Dalam pelaksanaan ibadah ini umat islam berkumpul dengan menanggalkan segala macam status yang disandangnya tanpa memandang status sosial, kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, kulit hitam dan kulit putih, berbagai ras didunia tanpa memandang perbedaan semua berjalan seirama melaksanakan urutan-urutan ibadah dengan satu semangat persatuan Islam dalam rangka menegakkan agama Allah dan menaati perintahNya.

Dibulan ini pula mendekati Hari Raya Idul Adha kita kembali diingatkan pada sebuah kisah luar biasa tentang keimanan, kesabaran dan ketaatan absolut seorang Nabi Ibrahim yang demi perintah Tuhannya rela mengorbankan anaknya Ismail. Untuk sekedar merefresh kembali ingatan kita, kisah ini berawal dari kerisauan Nabi Ibrahim yang setelah menikah dengan Sarah belum juga dikaruniai keturunan hingga akhirnya Sarah mengizinkan Nabi Ibrahim untuk menikahi Siti Hajar dayangnya. Nabi Ibrahim pun berdoa dan memohon kepada Allah agar beliau diberi kepercayaan untuk memiliki seorang putra dan Allah pun mengabulkan doanya hingga akhirnya lahirlah seorang bayi laki-laki dari kandungan Siti Hajar yang sangat menggembirakan hati Nabi Ibrahim. Kehadiran Ismail membuat cemburu Sarah yang merasa Ibrahim lebih sering berdekatan dengan Siti Hajar karena kelahiran Ismail hingga akhirnya dengan petunjuk Allah Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan Ismail ke tempat yang kini kita kenal dengan kota Makkah yang pada saat itu hanya berupa gurun tandus tak berpenghuni dan meninggalkan mereka disana.

Hari berlalu dan tahun berganti akhirnya Nabi Ibrahim kembali ke Makkah untuk menemui istri dan putranya tercinta. Betapa bahagianya beliau ketika melihat Ismail yang mulai tumbuh besar sehingga semakin menambah besar rasa kasih dan sayangnya kepada Ismail. Namun ditengah-tengah rasa sukacitanya dapat berkumpul dengan putra terkasih tiba-tiba pada suatu saat Nabi Ibrahim bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih Ismail. Beliau kaget, keraguan dan kebimbangan menyelimuti hatinya benarkah ini sebuah perintah dari Allah atau jangan-jangan ini hanya tipudaya setan belaka? demikian batinnya berkecamuk. Hingga akhirnya beliau mendapat mimpi dan perintah yang sama hingga terulang tiga kali dan Nabi Ibrahim pun menetapkan tekad dan menguatkan hati lalu meyakini kalau ini adalah benar-benar perintah Allah yang harus dilaksanakan. Nabi Ibrahim pun pergi menemui  putranya dan menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Allah melalui mimpinya. Semula beliau khawatir akan jawaban anaknya, tapi Ismail menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Betapa terharunya beliau mendengar jawaban dari anaknya yang shaleh sehingga makin menambah rasa sayangnya sekaligus menambah kesedihannya karena teringat bahwa beliau akan kehilangan anak yang dikasihinya. Akhirnya ayah dan anak ini pun membulatkan tekad dengan penuh keimanan dan ketaatan untuk segera melaksanakan perintah Allah tersebut, parang yang sangat tajam pun disiapkan dan mereka berangkat menuju suatu tempat untuk melaksanakan perintah tersebut. Dan akhirnya saat-saat terberat bagi Nabi Ibrahim pun tiba… dengan mengumpulkan segenap keyakinan dan dengan penuh kepasrahan Nabi Ibrahim pun mengayunkan parang ke leher Ismail dan mulai menyembelihnya. Namun apa yang terjadi…. parang yang sudah begitu tajam seakan-akan menjadi tumpul dan tidak mampu melukai leher Ismail… tak ada setetes darahpun keluar dari leher Ismail, Nabi Ibrahim pun mengulangi dan tetap saja Ismail tidak terluka sedikitpun. Hingga akhirnya Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk tidak meneruskan menyembelih Ismail dan digantikan oleh Allah dengan seekor hewan sembelihan yang besar (para ulama sepakat kalau hewan sembelihan yang dimaksud adalah sejenis kambing atau domba). Dan kejadian ini  menjadi asal mula disunnahkannya berkurban bagi umat Islam pada Hari Raya Idul Adha .

 Sungguh sebuah kisah yang sangat luar biasa yang barangkali tidak akan ada seorang pun dari kita yang sanggup menyamai kepasrahan, ketaatan, dan keimanan absolut  Nabi Ibrahim sehingga kisah ini diabadikan dalam Al Quran Surat Ash Shaaffaat Ayat 99-108 : Dan Ibrahim berkata:”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian (QS. 37:99-108)

Lalu apa hikmah yang dapat kita petik dari kisah diatas? banyak sekali hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil, tapi disini kita akan coba mempersempit dan  mengambil 4 poin untuk kita jadikan bahan renungan diantaranya :

Hikmah Idul Adha. Sebuah renungan tentang Keimanan, Kesabaran, Keikhlasan dan Solidaritas Sosial, 10.0 out of 10 based on 1 rating

HALAMAN : 1 2

Dipublikasikan pada 27 Oktober 2011 oleh Abu Izzy.

Komen dong... jangan malu-malu

Tidak ada komentar
 

Kasih komentar...

:1up: :alert: :ban: :beer: :borg: :coffee: :cuckoo: :cuss: :finger: :goombah: :stupid: :megaman: :limadua: :pity: :noshake: :oogle: :pacman: :pill: :poison: :rant: :satansmoking: :shake: :shiftyeyes: :shroom: :sick: :smirk: :spammer: :stfu: :thumbdown: :thumbup: :turtle: :what: :whatever:

Desain Web oleh "IbnKhaled" - Pengembangan Web oleh riftom
Copyright © 2010 - 2012 ° limadua.com ° Hak cipta dilindungi Allah SWT.